Perbedaan Tahanan AC dan Tahanan DC pada kabel konduktor

Perbedaan Tahanan AC dan Tahanan DC pada kabel konduktor - Dari namanya kita bisa menyimpulkan, Tahanan DC (DC Resistance) adalah besarnya nilai tahanan ohm/km kabel konduktor tersebut ketika dialiri oleh arus DC, sedangkan Tahanan AC (AC Resistance) adalah besarnya nilai tahanan ohm/km kabel konduktor tersebut ketika dialiri oleh arus AC. 


Pada data sheet kabel konduktor sering kita melihat 2 buah tahanan sebesar ohm/km, yaitu Tahanan DC (DC Resistance) dan Tahanan AC (AC Resistance), seperti pada gambar data sheet kabel dibawah ini. 




Dari data sheet tersebut, kita mengetahui karaketeristik tahanan kabel konduktor ketika digunakan untuk mendistribusikan suplay DC maupun suplay AC. 

Pada artikel kali ini, kita coba membahas lebih dalam apa sebenarnya tahahan DC dan tahanan AC pada kabel konduktor.

Rumus nilai tahanan pada sebuah konduktor dinyatakan dalam bentuk sbb :

R= ρ.L/A
Dimana,
ρ = Resistivity konduktor (Ω⋅m)
L = Panjang konduktorr(m)
A = Luas area penampang konduktor( M2)

Nilai tahanan yang dihasilkan dari perhitungan yang menggunakan rumus diatas merupakan nilai tahanan untuk Tahanan DC. Dari persamaan diatas, faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai tahanan DC adalah jenis bahan konduktor yang digunakan (ρ) , panjang konduktor tersebut (L) dan berbanding terbalik dengan luas penampang kabel (A).

Ketika arus DC mengalir melalui sebuah kabel konduktor dengan panjang tertentu (L), seluruh luas penampang konduktor (A) tersebut termanfaatkan secara penuh dan dengan demikian nilai tahanan DC menjadi lebih kecil. 

Sementara itu, ketika arus AC dialirkan melalui kabel konduktor yang sama (L), arus AC tersebut tidak terdistribusi secara merata pada seluruh penampang kabel (A) dan hanya terkonsentrasi di dekat permukaan konduktor sehingga area penampang efektif yang dialiri arus berkurang dan menyebabkan nilai tahanan meningkat. 

Dan pada kenyataanya, nilai  tahanan AC lebih besar dari pada nilai tahanan DC dan perhitungan nilai tahanan AC dan DC sangat penting dalam pemilihan kabel konduktor untuk mengurangi rugi rugi daya pada suatu hantaran kabel.

Kalau tahanan DC,  murni dipengaruhi oleh material kabel konduktor (ρ), panjang kabel konduktor (L), dan luas penampang kabel (A), maka untuk nilai tahanan AC, terdapat 2 komponen tambahan yang memiliki pengaruh besar terhadap besar kecilnya nilai tahanan AC pada kabel konduktor, yaitu :
  • Skin Effect
  • Proximity Effect

Sehingga rumus untuk menghitung nilai tahanan AC adalah sbb : 

Rac=Rdc.[1+αs+αp]

Dimana,
Rac     = Nilai tahanan AC 
Rdc     = Nilai tahanan DC
αs        = Skin effect factor 
αp        = Proximity effect factor 

Dari persamaan diatas, terlihat hubungan antara nilai Tahanan AC (Rac) dengan nilai Tahanan DC (Rdc). Selanjutnya pada artikel berikutnya akan coba kita bahas mengenai apa itu SKIN EFFECT dan PROXIMITY EFFECT. 

Demikian, semoga bermanfaat.


VSD - Mode Operasi Vektor Open Loop

VSD - Mode Operasi Open Loop Vektor - Kelanjutan dari postingan sebelumnya (di link ini) , Metode berikutnya adalah Open Loop Vector (OLV) atau disebut juga sensor less vector. Hampir mirip dengan metode Vector V/F (seperti yang kita ulas pada postingan sebelumnya. Sesuai dengan namanya “open loop”, metode ini juga tidak menggunakan encoder alias tanpa sinyal feedback.
Keuntungan dari meotde ini adalah lebih besar ruang yang tersia untuk pengaturan/pengontrolan motor.
Ketika VSD dioperasikan dengan menggunakan metode ini… torsi yang dihasilkan bisa mencapai 200% pada frekuensi 0.3 -  0.5  HZ. Dengan tingginya torsi yang dapat dihasilkan pada putran rendah (0.3 – 0.5 Hz), hal ini dapat dimanfaatkan pada berbagai aplikasi peralatan yang membutuhkan torsi yang lebih tinggi pada putaran rendah.

Dengan metode ini, limit torsi dapat diatur sesuai keinginan berdasarkan 4 quadrant torsi limit. Spt gambar “Quadran Torsi Limit” diabawah ini :



Torsi Limit utamanya digunakan sebagai pembatas torsi sebuah motor untuk mencegah kerusakan pada peralatan atau mesin  yang disebabkan karena kelebihan torsi pada motor penggeraknya.
Pada gambar diatas, torsi limit dibagi atas 4 kuadrant berdasarkan arah putaran motor dan kondisi saat motoring maupun generating.

Close Loop Vector
Metode Close Loop Vector (CLV) menggunakan algoritma vektor untuk menentukan tegangan output seperti metode OLV. Perbedaan utama sekarang adalah penambahan sebuah encoder sebagai feedback sinyal. Umpan balik encoder dipasangkan dengan metode kontrol vektor memungkinkan torsi start motor 200% pada 0 rpm .Fitur ini diperlukan untuk menahan/memegang beban agar tidak bergerak, seperti pada lift, elevator, crane, dan kerekan.

Umpan balik pembuat encoder ini memungkinkan respons kecepatan tertinggi, lebih dari 50 Hz, dan juga rentang kendali kecepatan tertinggi 1: 1500. Metode CLV juga memiliki kemampuan untuk menjalankan motor dalam mode kontrol torsi. Mode kontrol torsi memungkinkan VFD untuk secara langsung mengontrol torsi motor daripada kecepatan motor.Hal ini diperlukan untuk aplikasi apa pun di mana torsi diprioritaskan daripada kecepatan .. seperti untk penggulungan belitan , benang, kabel dll.


Demikian...

Mode Opeasi pada Variabel Speed Drive

Mode Opeasi pada Variabel Speed Drive - Variabel Speed Drive (VSD) atau sering disebut juga Variabel Frequency Drive (VFD) sering kita temukan penggunaannya pada peralatan industri. Pemanfaatannya mulai dari pengaturan kecepatan pompa, belt conveyor, fan , feeding rate dan lain - lain.

VSD atau VFD yang kita temui di industri merupakan rangkaian elektronika daya yang sangat komplek yang memiliki beberapa ratus sampai lebih dari seribu parameter yang dapat disetting untuk mengoptimalkan kinerja VSD atau VFD tersebut. Sehingga perlu diketahui parameter mana yang penting dengan yang tidak, yang berpengaruh signifikan dan sebagainya. Sehingga dengan dilakukannya penyetingan ini tidak malah menyebabkan penurunan kinerja VSD , kerusakan pada VSD atau malah menyebabkan motor sendiri yang rusak.

Dari pengalaman, tidak semua parameter tersebut perlu di tilik satu persatu, karena nilai yang terdapat dalam parameter tersebut telah terisi secara default dan tidak perlu di utak atik lagi. Disamping  saya juga tidak paham betul fungsi parameter itu dan  kenapa mesti harus di isi dengan nilai tersebut. Tapi beberapa parameter memang harus kita tetapkan nilainya, menyesuaikan dengan name plate motor, proteksi untuk melindungi peralatan dan mode operasi yang menyesuaikan dengan kondisi operasional yang diinginkan.

Prinsipnya , paremeter yang lain, jangan diganggu, kalau kita tak benar benar paham maksud dan fungsinya.

Untuk parameter proteksi dan data motor yang akan dikendalikan oleh VSD rasanya sudah jelas, bisa saja antara VSD merek satu dengan yang merek yang lain berbeda lokasi dan nama parameternya, tetapi itu dapat dipahami dengan membaca dokumen  instruksi manual bawaan VSD tersebut.

Yang menjadi bahasan kita pada postingan ini adalah mode operasi yang akan kita terapkan pada VSD tersebut dan tentu saja menyesuaikannya dengan kebutuhan operasional peralatan dilapangan yang akan kita kendalikan.

Mode operasi yang dapat kita pilih pada sebuah VSD atau VFD adalah sebagai berikut :

1. Mode Operasi V/F (Volts / Hertz)
2. Mode Operasi V/F dengan Encoder
3. Mode Operasi Open Loop Vector
4. Mode Operasi Closed Loop Vector

Mungkin pada banyak VSD keempat mode operasi tersebut berbeda penamaannya, namun secara garis besar mode operasinya tetap sama.

Dari keempat mode operasi diatas, untuk Mode Operasi V/F pernah kita bahas pada postingan terdahulu (pada link ini), sehingga pembahasan berikutnya kita lanjut ke mode operasi yang kedua yaitu  Mode Operasi V/F dengan Encoder




VSD - Mode Operasi V/F dengan Encoder


Prinsip operasinya sama dengan mode V/F, tapi pada mode ini ditambahkan sebuah encoder.  Yaitu sebuah alat elektro - mekanis yang dipasang pada shaft motor (biasanya disisi fan motor) sehingga setiap perputaran shaft motor , encoder akan menghasilkan rangkaian pulsa yang difeedback kan (umpan balik) sebagai umpan balik kecepatan aktual ke rangkaian VSD.

Selain Encoder juga bisa digunakan Tacho Generator, yang juga menghasilkan sinyal sebanding dengan putaran shaft motor tempat pemasangannya.

Dan tentu saja pada VSD ditetapkan dulu spesifikasi berapa pulsa yang dihasilkan encoder untuk satu putaran shaft motor, Sehingga hasil kalkulasi VSD untuk sederetan pulsa feedback yang diterima sesuai dengan aktual RPM motor yang beroperasi.

Pengaturan kecepatan dengan mode ini hanya sedikit lebih baik dibandingkan mode operasi V/F saja. Hanya lebih baik pada pengaturan regulasi kecepatan pada frekuensi yang tinggi. Hal ini  dikarenakan fungsi feedback dari sehingga VSD dapat mengatur kecepatan dengan mengatur frekeunsi hingga deviasinya bisa mencapai +/- 0,03% dari frekuensi yang dibutuhkan.

Sebenarnya dengan mode opeasi V/F sajas sudah cukup, dikarenakan frekuensi yang dihasilkan oleh VSD sudah pasti sebanding dengan kecepatan motor ( rumus n = 120 F/p). Sedangkan untuk tegangan output masih ditentukan oleh pola V / f .

Mode kontrol ini tidak umum digunakan karena ada biaya tambahan untuk pembelian  encoder dan modul untuk feed back pad VSD (pada VSD tertentu, merupakan pembelian optional) sementara  kelebihan yang didapat dari metode ini tidak signifikan. Karena Torsi Awal, Respons Kecepatan,  dan rentang kontrol kecepatan semuanya sama dengan metode kontrol V / F.

Untuk mode operasi yang lain, akan saya usahakan dipostingan berikutnya.

Oh yaa.   Kalau ada pendapat atau pertanyaan dari pembaca... mari kita diskusikan.
Mohon maaf.... Disini saya bukan seorang yang ahli dala hal kelistrikan ataupun VSD . Postingan ini saya buat berdasarkan pengalaman yang saya dapat selama bekerja dibidang listrik, dan menerapkan ilmu best practice yang saya dapati dan saya pahami selama bekerja, juga dari referensi yang saya baca  , dan transfer knowledge dari beberapa tenaga kerja asing yang terlibat didalam pekerjaan tersbut. Bisa jadi pemahaman saya salah.. bisa saja ada yang lebih baik diluar sana.... 

Semoga bermanfaat....


Contoh 2 Aplikasi Sistim PU (Per Unit) - Lanjutan

Contoh 2 Aplikasi Sistim PU (Per Unit) - Lanjutan - Pada postingan sebelumnya (disini) kita sudah mendaptkan 2 buah gambar dari gambar awal yaitu, rangkaian ekivalen dan pengelompokan berdasarkan Voltage base (Vbase).

Langkah selanjutnya untuk memulai perhitungan adalah :


1. Asumsi Sistim Base (Sbase)


Pada langkah ini kita mengasumsikan nilai sistim base (Sbase) dengan nilai tertentu (acak) dan nlai tersebut diharapkan dapat memeudahkan kita dalam perhitungan berikutnya. Dalam hal ini kita mengasumsikan diawal Sbase adalah diangka 100 MVA.

Nilai tersebut tidak mesti 100, bisa 76 , 88 atau yang lainnya. Pertimbangannnya dipilih 100 adalah untuk memudahkan dalam melakukan perhitungan.

Sbase = 100 MVA (Asumsi)


2. Menetapkan Vbase

Dari postingan sebelumnya kita telah medapatkan Vbase sebagai berikut :
  • Level tegangan 22 kV, keluaran dari Generator, ditetapkan Vbase1 = 22 kV
  • Level tegangan 220 kV pada Line 1, ditetapkan Vbase2 = 220 kV
  • Level tegangan 110kV pada Line 2, ditetapkan Vbase3 = 110 kV
  • Level tegangan 11 kV pada beban, ditetapkan Vbase4 = 11 kV

3. Menghitung Zbase

Untuk menghitung nilai Zbase kita menggunakan rumus sbb :

Zbase = (kVbase)2 / Sbase (MVA) ....................... ohms

Untuk Line 1 :
Zbase = (220)2 / 100 (MVA)
Zbase = 484 ohm

Untuk Line 2 :
Zbase = (110)2 / 100 (MVA)
Zbase = 121 ohm

Untuk beban 3 phasa :
Zbase = (11)2 / 100 (MVA)
Zbase = 1.21 ohm



4. Menghitung Impedansi Per Unit

Impedansi PU dihitung dengan menggunakan rumus :

Zp.u. = Zactual / Zbase 

Zp.u.new = Zp.u.old * ( Sbasenew / Sbaseold ) * ( Vbaseold / Vbasenew )

Sehingga Zp.u. menjadi :   
Zp.u.  untuk Line 1 : Xl1  48.4 / 484 = 0.1 pu

Zp.u.  untuk Line 2 : Xl2  65.43/ 121 = 0.5 pu


Untuk beban 3 phasa :

Power Factor  : Cos phi 0.6 ada pada sudut ∠ 53.13.
Sehingga beban untuk 3 phasa S load  = 57 ∠ 53.13.
Dan nilai impedansinya menjadi : Zactual  = (Vrated )2 /  S load
Zactual  = (10.45)2 /  57 ∠ 53.13
Zactual  = 1.1495 + j 1.53267 ohms.

Sehingga per unit impedansinya menjadi :
Zload p.u.  = ( 1.1495 + j 1.53267 ) / 1.21
Zload p.u. = 0.95 + j 1.2667 p.u.

Untuk Generator :
Xsg  = 0.18 *  (100 / 90 ) *  (22/22)2
Xsg  = 0.2 pu 



Untuk Transformator T1:   Xt1  = 0.1 *  (100 / 50 ) *  (22/22)2   = 0.2 pu 
Untuk Transformator T2:   Xt2  = 0.06 *  (100 / 40 ) *  (220/220)2   = 0.15 pu 
Untuk Transformator T3:   Xt3  = 0.064 *  (100 / 50 ) *  (22/22)2   = 0.16 pu 
Untuk Transformator T4:   Xt4  = 0.08 *  (100 / 50 ) *  (110/110)2   = 0.2 pu 
Untuk Motor T1:   Xsm = 0.185 *  (100 / 66.5 ) *  (10.45 / 11 )2   = 0.25 pu 

Sehingga diagram rangkaiannya menjadi seperti dabawah ini :



Demikian..........................

Contoh 2 Aplikasi Sistim PU (Per Unit)

Contoh 2 Aplikasi Sistim PU (Per Unit) - Melanjuti postingan sebelumnya (Contoh Aplikasi Sistim PU (Per Unit)), pada postingan kali ini kia bahas kembali perhitungan PU pada sebuah sistim tenaga listrik yang lebih kompek. Ok lansung saja , seperti pada gambar dibawah ini :



Pada gambar tersebut ada sumber supply (G) , ada 2  buah trafo step up  (T1 dan T3) dan 2 buah trafo step down (T2 dan T4), 2 line transmisi (Line 1 dan Line 2) dan 2 beban, motor (M) dan beban umum (3 phasa load). Yang kesemuanya dilengkapi data parameter seperti pada gambar.

Dari gambar diatas, kita coba turunkan diagram rangkaian ekivalen impedansinya, sehingga menjadi sebagai berikut :


Untuk memulai perhitungannya, kita perlu menentukan V base untuk rangkaian diatas. Dari diagram sistim diatas (gambar 1), kita perlu menentukan variabel tegangan disistim tersbut. Dikarenakan ada 4 level tegangan yang terdapat disistim tersebut (gambar 1), yaitu :
1. Level tegangan 22 kV, keluaran dari Generator, ditetapkan Vbase1 = 22 kV
2. Level tegangan 220 kV pada Line 1, ditetapkan Vbase2 = 220 kV
3. Level tegangan 110kV pada Line 2, ditetapkan Vbase3 = 110 kV
4. Level tegangan 11 kV pada beban, ditetapkan Vbase4 = 11 kV

Dari gambar 1 , kita kelompokan berdasarkan level tegangan sehingga menjadi gambar seperti dibawah ini :


Dari sini kita sudah menyelesaikan langkah awal untuk melakukan perhitungan PU untuk rangkai sistim tenaga listrik diatas.


Selanjutnya tahap berikutnya adalah menetapkan , sebagai berikut :
1. Asumsi Sisitm Base (Sbase)
2. Identifikasi Vbase
3. Menghitung Zbase
4. Menghitung Zpu

Ok, segitu dulu postingannya, untuk perhitungannya akan kita lanjutkan pada postingan berikutnya.
Link lanjutannya nya yang ini Contoh 2 Aplikasi Sistim PU (Per Unit) - Lanjutan

Contoh Aplikasi Sistim PU (Per-Unit)

Contoh Aplikasi Sistim PU (Per-Unit) - Pada postingan kali ini kita akan coba melakukan penerapan sistim pu (per_unit) pada aplikasi suatu jaringan transmisi yang melibatkan transformator, jaringan transmisi, beban dan generator, seperti berikut ini :

Contoh I :
Berikut merupakan sebuah contoh praktis aplikasi sistim per-unit (pu) yang ditunjukkan dalam perhitungan pengaturan untuk relay pada saluran transmisi. Untuk relay jarak, pengaturan umum untuk zona 1 adalah 85% dari impedansi pada saluran yang dinamakan  Zona 1 sedangkan Zona 2 harus diatur tidak kurang dari 125% dari impedansi saluran transmisi , seperti pada gambar dibawah ini :

Contoh Aplikasi Sistim PU (Per-Unit)

Dari gamar diatas, terdapat sebuah sistim tenaga lisrik dengan data sebagai berikut :
  • Sebuah transformator 200 MVA 161/115 kV , dengan %Z = 6.796
  • Impedansi saluran dari Bus 115 kV menuju sisi LV Trasnformator dinamakan Zona 1 dengan nilai 34.81 @81o ohm
  • Impedansi saluran dari Bus 115 hingga saluran yang keluar dari  sisi HV Trasnformator menuju beban, dinamakan Zona 2 dengan nilai 59.3 @81o ohm
  • Proteksi dengan kode ANSI 21, yaitu Distance Relay (Relay Jarak)
Perhitungan :

Berdasarkan aturan 85% dan 125% yang kita jelaskan diatas, maka nilai impedansi untuk masing - masing zona (Zona 1 dan Zona 2) bila dilihat dari sisi 161 kV ( sisi yang menuju beban) adalah :

Zona 1
  • Z1(Ω) = 85% . (59.31 @81o )
  • Z1(Ω) = 50.4  @81o
Zona 2
  • Z2(Ω) = 125% . (59.31 @81o )
  • Z2(Ω) = 74.1  @81o

Sehingga relay jarak (distance relay) untuk  saluran disisi 161 kV diset dengan nilai  Z1(Ω) = 50.4  @81o  dan Z2(Ω) = 74.1  @81o.

Jika sebelumnya kita menghitung dari sisi 161 kV, maka untuk relay yang kedua kita hitung berdasarkan tegangan 115 kV, yaitu Relay Distance I, yang berarti nilai impedansi sebelum masuk transformator.

Pertama, kita mengetahui %Z transforamtor tersebut adalah sebesar 6.796. Sehingga untuk mencari nilai impedansi aktualnya, kita gunakan persamaan yang telah pernah kita bahas pada Sistim PU (Per-Unit) -2

Z(Ω)   =  ( Zpu  . kVbase  2)  /  MVAbase

Sehingga nilai impedansi transformator dari sisi  115 kVdidapat :

Z115kV  (Ω)   =  ( 0.6796 . 1152)  /  200
= 4.494 Ω


Berikutnya adalah, mengkonversi impedansi saluran disisi 161 kV yang nilainya 59.31 @81o kenilai impedansi disisi 115 kV, seperti berikut :
Dari persamaan yang pernah kita bahas sebelumnya

Zohmnew  =  Zohmold  . ( kVbasenew  /  kVbaseold )2
Zohmnew  = 59.31 . ( 115 / 161 )2 
Zohmnew  = 30.3 ohm

Sehingga nilai total impedansi dihitung dari sisi 115 kV menjadi :


Z  =  Z115kV Z + Zohmnew ohmold 

Z  = 4.494  + 30.3 @81o 
Z = 34.794 @81o  ohm

Dengan metode yang sama untuk mencari nilai setting pada Zona 1 dan Z2 didapat nilai setingan untuk proteksi relay distance (relay jarak) pada sisi 115 kV adalah
 adalah :

Zona 1

  • Z1(Ω) = 85% . (34.8 @81o )
  • Z1(Ω) = 29.6 @81o
Zona 2
  • Z2(Ω) = 125% . (34.8 @81o )
  • Z2(Ω) = 43.5 @81o
Contoh Aplikasi Sistim PU (Per-Unit) 2

Baiklah... sampai disini ulsan saya mengenai contoh penggunaan Sistim PU, semoga bermanfaat

Sistim PU (Per-Unit) -2

sistim pu - per-unitSistim PU (Per-Unit) -2 , Sebgai kelanjutan dari artikel sebelumnya Sistim PU (Per-Unit) , berikut saya kita lihat contoh perhitungan dari penggunaan sistim pu tersebut. Ok... lansung saja :

Contoh I :

Sebuah sistim tenaga listrik memiliki Sbase sebesar 100 MVA, arus basis (Ibase) pada sistim tersebut ketika tegangan base adalah Vbase = 230 kV dan 525 kV. Kemudian hitung arus actual_value bila diketahui I = 4.95 pu , and V = 0.5 pu pada Vbase 230 kV and 525 kV.

Penyelesaian :

Dari parameter diatas, pertama kita apat mendapatkan nilai Ibase , dengan menggunakan persamaan yang sudah kita bahas pada postingan sebelumnya Sistim PU (Per-Unit) , yaitu :

Ibase  =  kVAbase  /  √3 kVbase ..................................... (Ampere)

Sehingga didapat Ibase adalah :

1.  Nilai Ibase pada Vbase = 230 kV dan Sbase = 100 MVA 
Ibase  =  1000 . 100  /  √ 3 . 230
Ibase  =  251 A


2.  Nilai Ibase pada Vbase = 525 kV dan Sbase = 100 MVA 
Ibase  =  1000 . 100  /  √ 3 . 525

Ibase  =  110 A


Dari postingan sebelumnya (Sistim PU (Per-Unit), diketahui persamaan :

Iactual  =  Ipu  .  Ibase
Vactual  =  Vpu  .  Vbase

Sehingga Iactual  dan Vactual didapat sebagai berikut :
1.    Pada tegangan 230 kV :
Iactual  =  4.95 x  251 A
Iactual  = 1242 A

Vactual  =  0.5 x  230 kV
Vactual  = 115 kV

2.    Pada tegangan 525 kV :
Iactual  =  4.95 x  110 A
Iactual  = 544 A

Vactual  =  0.5 x  525 kV
Vactual  = 262.5 kV




Contoh II :

Sebuah autotransformator dengan kapasitas 900 MVA, 525 kV/241.5 kV amemiliki impedansi  sebesar 10.14%. Tentukan 

  1. Nilai impedansi dalam ohm bila merujuk kes sisi tegangan 525 kV
  2. Nilai impedansi dalam ohm bila merujuk kes sisi tegangan 241.5 kV

Penyelesaian :

Pertama kita konversi terlebih dahulu nilai %Z autotransformator tersebut ke nilai per-unit (pu) dengan menggunakan persamaan yang sudah kita bahas pada postingan Sistim PU (Per-Unit) ,  yaitu :

Zpu   =  %Z / 100


sehingga

Zpu   =  10.14 / 100
Zpu   = 0.1014

Kemudian dari persamaan postingan Sistim PU (Per-Unit)sebelumnya diketahui : 

Z(Ω)   =  ( Zpu  . kVbase  2)  /  MVAbase

sehingga
1.  Nilai impedansi dalam ohm bila merujuk kes sisi tegangan 525 kV, adalah :

Z(Ω) = ( 0.1014 x 525 2) / 900
Z(Ω) = 31.05 Ω


2.  Nilai impedansi dalam ohm bila merujuk kes sisi tegangan 241.5kV, adalah :


Z(Ω) = ( 0.1014 x 241.5 2) / 900
Z(Ω) = 6.57 Ω


Dengan dua contoh diatas, saya harap penjelasan pada postingan Sistim PU (Per-Unit) sebelumnya dapat lebih mudah dipahami.

Contoh yang kita bahas diatas baru sekedar penggunaan rumus dan memasukan angka - angka yang sudah ditentukan. Masih jauh dari penerapannya pada analisa sistim tenaga. Tentang bagaimana penerapannya pada analisa suatu sistim tenaga akan kita bahas pada postingan berikutnya...

Salam..........